forum komunitas sahabat yahoo
 
HomePortalCalendarFAQSearchRegisterMemberlistUsergroupsLog in
backlink backlink backlink

Share | 
 

 Kota Pahlawan Akhirnya Memiliki Pahlawan Nasional

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
arthasewu

avatar

Female
Number of posts : 104
Age : 27
Localisation : yogya
Registration date : 2008-01-20

PostSubject: Kota Pahlawan Akhirnya Memiliki Pahlawan Nasional   Mon Nov 10, 2008 6:49 am

Kota Pahlawan Akhirnya Memiliki Pahlawan Nasional

http://dekco.blogspot.com

Oleh Chandra HN Ichwani

Surabaya
(ANTARA News) - Perlawanan heroik nan besar-besaran arek-arek Suroboyo
melawan pasukan Sekutu demi mengusir tentara Belanda (NICA) yang
memboncenginya dan berhasrat menjajah kembali Indonesia, membuat
Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan.

Ironisnya, sebagai Kota
Pahlawan, hingga awal Nopember 2008, Surabaya belum memiliki seorang
pun Pahlawan Nasional, padahal peristiwa 10 Nopember 1945 adalah bukti
tak terbantahkan bahwa banyak warga Surabaya layak digelari Pahlawan
Nasional. Salah seorang yang paling menonjol, tentu saja adalah Sutomo
atau Bung Tomo.

Ia adalah ikon Surabaya. Gaya khas pidatonya
yang membara penuh semangat membakar arek-arek Suroboyo untuk bertempur
menyingkirkan NICA. Pidatonya telah mengobarkan perjuangan rakyat
Surabaya mengusir kembali penjajah dari bumi pertiwi.

Seruan
heroik Bung Tomo di radio untuk menentang Belanda ditulis dengan tinta
emas pada sejarah perjuangan panjang Indonesia dalam melepaskan diri
dari kolonialisme. Dalam buku-buku sejarah, Bung Tomo adalah tokoh
sentral pertempuran 10 Nopember 1945.

Sayang, tokoh yang tak diragukan lagi sangat berperan dalam peristiwa itu belum diakui pemerintah sebagai pahlawan nasional.
Kini,
setelah 63 tahun Pertempuran 10 Nopember yang kemudian disebut dengan
Hari Pahlawan itu, Kota Pahlawan akhirnya benar-benar mempunyai
pahlawan nasionalnya sendiri.

Ya, pejuang asal Surabaya itu
dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah, tepat di Hari
Pahlawan tanggal 10 Nopember ini.

Menteri Komunikasi dan
Informatika Mohammad Nuh kepada wartawan di Surabaya, Minggu (2/11),
mengungkapkan rencana itu dengan rinci.

"Pemberian gelar
Pahlawan Nasional kepada Bung Tomo adalah kabar baik bagi masyarakat
Surabaya khususnya dan Jawa Timur pada umumnya, menjelang peringatan
Hari Pahlawan," kata mantan Rektor ITS yang asli arek Suroboyo tersebut.

Bung
Tomo menjadi salah seorang dari beberapa tokoh nasional yang akan
menerima gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah, langsung diserahkan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta.

Pemberian gelar
Pahlawan Nasional kepada tokoh yang lahir di Kampung Blauran, Surabaya,
pada 3 Oktober 1920 ini berarti mengakhiri polemik berkepanjangan
mengenai patut tidaknya dia menyandang gelar Pahlawan Nasional.

Usul
pemberian gelar pahlawan nasional kepada Bung Tomo pernah disampaikan
beberapa kali kepada pemerintah, tetapi tidak pernah disetujui.
Keluarga besar Bung Tomo sendiri tidak mempermasalahkan perlu tidaknya
Bung Tomo diberi gelar Pahlawan Nasional.

"Saya tidak tahu,
mengapa gelar ini tidak diberikan sejak dulu. Bagi saya itu bukan
persoalan, karena yang penting sekarang Bung Tomo sudah diakui sebagai
Pahlawan Nasional," kata Nuh.

Menkominfo mengatakan, ada
beberapa prosedur yang harus dilalui sebelum seorang tokoh mendapat
gelar Pahlawan Nasional, diantaranya tokoh itu diusulkan sekelompok
masyarakat kepada pemerintah provinsi untuk kemudian diteruskan kepada
Departemen Sosial.

"Dari Depsos, usul disampaikan kepada tim
pemberi anugerah jasa-jasa nasional untuk ditindaklanjuti. Kalau
dianggap layak dan sesuai persyaratan, maka tokoh itu akan mendapatkan
gelar Pahlawan Nasional," jelasnya.

Ia menambahkan, presiden
memiliki hak prerogatif untuk memberikan gelar kepada seseorang yang
dianggap berjasa kepada bangsa dan negara. "Tapi semuanya tetap melalui
prosedur dan mekanisme yang berlaku."

Kritis
Keluarga
menilai, sikap kritis Bung Tomo terhadap semua rezim yang berkuasa di
Tanah Air selama dia hidup, dari Orde Lama Soekarno sampai Orde Baru
Soeharto, adalah penyebab Bung Tomo tidak diakui sebagai Pahlawan
Nasional.

Pertemanannya dengan Proklamator RI, Soekarno, memburuk setelah keduanya bertengkar hebat.
Saat
itu, dalam upaya mengingatkan pemipinnya, Bung Tomo menanyakan sesuatu
yang bersifat pribadi kepada Bung Karno. Namun, pertanyaan itu malah
membuat Bung Karno tersinggung.

Hubungan dengan Soeharto pun
memburuk setelah Bung Tomo terang-terangan mengkritik kebijakan ekonomi
Soeharto yang mengabaikan pemerataan.

Ceramah Bung Tomo yang
kritis di berbagai kampus dianggap menyudutkan pemerintah sehingga ia
dipenjarakan selama setahun oleh pemerintah sejak 11 April 1978.

Berbagai
jabatan kenegaraan penting pernah diembannya, seperti Menteri Negara
urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial ad
interim pada 1955-1965 di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin
Harahap. Bung Tomo juga tercatat sebagai anggota DPR pada 1956-1959
mewakili Partai Rakyat Indonesia.

Sikap kritis dan kepahlawanan Bung Tomo dibawanya hingga akhir hayat saat menunaikan ibadah haji tahun 1981.
Bung
Tomo berpesan untuk tidak ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan
karena baginya pemakaman itu banyak diisi "pahlawan kesiangan".

Jenazahnya kemudian dibawa pulang ke Indonesia pada 1982 untuk dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel, Surabaya.
Putra
tertua Bung Tomo, H.M. Bambang Sulistomo Sip. MSi, pada seminar "100
tahun Kebangkitan Nasional" di RRI Surabaya pada 24 Mei 2008 bertutur,
"Sejarah yang sudah tercemar oleh persaingan dan konflik kepentingan
dari kekuatan politik, akhirnya hanya melahirkan tokoh pejuang atau
bahkan gelar pahlawan hasil rekayasa politik".

Menurut dia,
untuk menilai seorang tokoh, kelompok atau golongan yang berperan dalam
sejarah perjuangan bangsa Indonesia, diperlukan sebuah tim independen
yang bebas dari pengaruh kekuasaan politik dan kepentingan politik
rezim berkuasa.

Dia mengatakan, gelar pahlawan yang diberikan
kepada seorang tokoh seharusnya didasarkan kepada "sikap kepahlawanan"
seseorang itu selama hidupnya dan selama membaktikan dirinya kepada
rakyat dan bangsanya. Dan tokoh itu tak semestinya dicampakkan hanya
gara-gara menolak berbakti pada satu rezim penguasa.

Seorang
tokoh pejuang yang kemudian mendapat gelar pahlawan seharusnya adalah
seorang warganegara yang selama hidupnya secara konsisten menunjukkan
sikap lurusnya membela kepentingan rakyat dan bangsanya. Dan seseorang
itu bisa saja lahir dengan berlatarbelakangkan pendidikan, ideologi,
kelas masyarakat dan budaya apapun.

Sejarah yang benar adalah
sejarah yang tidak mengajarkan atau berisi diskriminasi terhadap tokoh,
kelompok, golongan, aliran, agama, etnis, ideologi atau peristiwa
apapun.

"Sejarah yang benar, baik itu dirasakan manis atau
pahit, akan menjadi pegangan bagi generasi berikutnya untuk
mempertahankan keberadaan dan kelangsungan nilai serta norma budaya
dari negara, rakyat dan bangsanya," kata Bambang Sulistomo
Back to top Go down
View user profile http://www.profitreload.com/?id=oliv
 
Kota Pahlawan Akhirnya Memiliki Pahlawan Nasional
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Jika Muslim Tak Menghargai Pahlawan Kristen, Maka Pahlawan Muslim Juga Tak Akan Dihargai Oleh Kristen
» Kota-Kota Bersejarah Islam
» MAKKAH Kota Paling Aman
» densus 88,kekerasan dan media,pahlawan atow pengecut..
» Mars Hari Santri Nusantara | Lagu Hari Santri Nasional | Karaoke dan Lirik Lagu

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
forum yahoo internasional :: kontak jodoh-
Jump to: